PoE (Power over Ethernet)


Power over Ethernet atau biasa disebut PoE merupakan sebuah teknologi mengalirkan daya listrik bersama data digital dalam satu media transmisi yaitu kabel ethernet (twisted pair). Ya, hanya dengan satu kabel kita sudah bisa menyalakan perangkat sekaligus mengkoneksikan data perangkat jaringan seperti Access Point, IP Camera, VoIP Telephone.

Gambar di atas menejelaskan salah satu konsep kerja PoE. Seperti yang saya jelaskan di artikel Jenis-Jenis Kabel Ethernet (UTP) dan Perbandingannya bahwa kabel ethernet didalamnya terdapat 4 pair kabel. Kabel ethernet 10 Base-T dan 100 Base-TX hanya menggunakan 2 pair untuk mentransmisikan data. Jika dilihat dari sisi RJ-45, inti kabel yang digunakan untuk mentransmisikan data adalah pin ke 1 dan 2 untuk TX serta pin ke 3 dan 6 untuk RX. Sisa pair tersebutlah yang digunakan untuk mengalirkan arus listrik DC dalam PoE. Lebih tepatnya pada pin ke 4-5 untuk arus positif dan pin ke 7-8 untuk arus negatif. Jadi konsep yang pertama ini, data dan daya listrik ditransmisikan secara terpisah. Kita sebut konsep ini Mode B.

Ada juga konsep PoE kedua, yaitu data tetap ditransmisikan melalui pin 1,2,3,6. Demikian pula dengan daya lisrik juga ditransmisikan satu jalur dengan data. Arus positif disalurkan di pin 1 dan 2, sedangkan arus negatif disalurkan di pin 3 dan 6. Kita sebut konsep ini Mode A.

Lalu bagaimana dengan kabel ethernet yang menggunakan 4 pair, apakah tidak support PoE?
Tentu saja ada satu konsep lagi yaitu konsep PoE 4 pair. Semua pair digunakan untuk mentransmisikan data. Sedangkan daya listrik tetap dialirkan di pin ke 1,2,3,6 atau pin ke 4,5,7,8 atau menggunakan semua pin. Konsep ini kita sebut "Mode 4-pair". Untuk lebih detailnya silakan perhatikan gambar berikut ini ya:

[PoE Tipe 1] PoE versi pertama mucul pada tahun 2003 dengan kode standar IEEE 802.3af yang mampu mentransmisikan arus DC hingga 15,4 Watt akan tetapi hanya sekitar 12 Watt yang dipastiakan tersedia karena sebagiannya hilang saat ditransmisikan.

[PoE Tipe 2] Di tahun 2009 tersedia PoE+ (PoE Plus) yang mampu mengalirkan daya listrik hingga 25 Watt dengan konsep yang sama seperti PoE generasi pertama. PoE ini ditetapkan dengan kode standar IEEE 802.3at.

Di tahun 2016 diperkenalkanlah Power over Data Lines (PoDL) dengan kode standar IEEE 802.3bu. PoDL ini ditujukan untuk single-pair Ethernet 100BASE-T1 dan 1000BASE-T1. PoDL umumnya digunakan pada aplikasi otomotif dan industri. PoDL mampu mentransmisikan daya listrik DC hingga 50 Watt.

Terakhir, pada tahun 2018 muncul 4PPoE (4-Pair Power over Ethernet) dengan kode standar IEEE 802.3bt. Sesuai namanya PoE ini bisa menggunakan semua pair yang tersedia untuk mentransmisikan data sekaligus arus listrik DC.

Akan tetapi, 4PPoE dibagi menjadi dua tipe :
[PoE Tipe 3] daya listrik yang ditransmisikan oleh PoE Tipe 3 antara 51 sampai 60 Watt. PoE tipe 3 ini bisa menggunakan konsep mode A dan B.
Sedangkan [PoE Tipe 4], daya yang ditansmisikan oleh PoE Tipe 4 mulai dari 71 hingga 100 Watt hanya bisa mendukung mode 4-pair. Perbandingan 4 tipe PoE tersebut bisa dilihat di tabel berikut :

Bagaimana Penggunaan PoE

Ada dua jenis penggunaan PoE, yaitu endspan dan midspan.

Endspan, artinya pada perangkat kita (switch, router, atau sejenisnya) sudah tersedia fitur PoE. Maksudnya, perangkat tersebut bisa memberikan power (PoE out). Jadi,kita hanya perlu menghubungkan perangkat yang akan kita nyalakan dengan PoE (misal: access point, telepon, atau bahkan router) ke perangkat yang bisa memberikan power tadi. Kurang lebih seperti ilustrasi di bawah ini.

Sedangkan Midspan diperlukan jika perangkat kita tida bisa memberikan power. Jadi kita perlu perangkat penengah yang namanya PoE injector. Jadi di antara perangkat utama dengan perangkat yang akan diberi power melalui PoE itu dihubungkan ke PoE injector sebagai midspan. Seperti pada ilustrasi berikut ini:

Disqus Comments